jump to navigation

PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA, DAN KESEHATAN April 29, 2009

Posted by aditya227sc in Uncategorized.
Tags:
trackback

PENGEMBANGAN KURIKULUM
PENDIDIKAN JASMANI,
OLAHRAGA, DAN KESEHATAN

Sks
Semester dan waktu
Pengampu : 3 Sks
: Gasal, 150 menit per pertemuan
: Prof. Wawan S. Suherman, M.Ed.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN JASMANI, KESEHATAN, DAN REKREASI
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2008

TOERI KURIKULUM
a. Teori Kurikulum
Hansiswany Kamarga (2008) dalam “landasan dan prinsip pengembangan kruikulum” menyatakan bahwa teori adalah (1) Satu set / sistem pernyataan yang menjelaskan serangkaian hal, (2) karakteristik pernyataan yang bersifat memadukan, berisi kaidah-kaidah umum, dan bersifat meramalkan, (3) teori lahir dari suatu proses, menjelaskan suatu kejadian yang menunjukkan sifat universal, dan (4) kegunaan teori adalah (a) mendeskripsikan, (b) menjelaskan, dan (c) memprediksikan

Teori kurikulum merupakan suatu perangkat pernyataan yang memberikan makna terhadap kurikulum sekolah; makna tersebut terjadi karena adanya penegasan hubungan antara unsur-unsur kurikulum, karena adanya petunjuk perkembangan, penggunaan dan evaluasi kurikulum.

Perkembangan teori kurikulum menurut Kamarga (2008) meliputi tahapan:
1) Franklin Bobbit : kehidupan manusia terbentuk oleh sejumlah kecakapan, diperoleh melalui pendidikan yakni penguasaan pengetahuan, keterampilan, sikap, kebiasaan, apresiasi à TUJUAN Kurikulum. Keseluruhan tujuan & pengalaman menjadi bahan kajian teori kurikulum
2) 1920 : pengaruh pendidikan progresif berkembang gerakan pendidikan yang berpusat pada anak. Isi kurikulum didasarkan pada minat & kebutuhan siswa
3) Caswell : konsep kurikulum yang berpusat pada masyarakat à kurikulum interaktif yang menekankan pada partisipasi guru
4) 1947 : dirumuskan 3 tugas teori kurikulum :
 Identifikasi masalah yang muncul dalam pengembangan kurikulum
 Menghubungkan masalah dengan struktur yang mendukungnya
 Meramalkan pendekatan di masa yang akan datang
5) Ralph W Tyler : 4 pertanyaan pokok inti kajian kurikulum :
– Tujuan
– Pengalaman pendidikan
– Organisasi pengalaman
– Evaluasi
6) 1963 : Beauchamp : teori kurikulum berhubungan erat dengan teori-teori lain.
7) Othanel Smith : sumbangan filsafat terhadap teori kurikulum (perumusan tujuan & penyusunan bahan)
8) Mc Donald (1964) : 4 sistem dalam persekolahan yakni kurikulum, pengajaran, mengajar, belajar
9) Beauchamp (1960 – 1965) : 6 komponen kurikulum sebagai bidang studi (1) landasan kurikulum, (2) isi kurikulum, (3) disain kurikulum, (4) rekayasa kurikulum, (5) evaluasi kurikulum, (6) penelitian dan pengembangan
10) Mauritz Johnson (1967) : membedakan kurikulum (tujuan) dengan proses pengembangan kurikulum. Pengalaman belajar merupakan bagian dari pengajaran. Sumber / landasan inti penyusunan kurikulum : (1) Bertolak dari kehidupan dan pekerjaan orang tua, (2) Menjadi luas, meliputi semua unsur kebudayaan, (3) Bersumber pada anak : kebutuhan, perkembangan, dan minat, (4) Berdasarkan pengalaman kurikulum yang sebelumnya, (5) Nilai (value), dan (6) Kekuasaan sosial & politik

Terdapat dua Sub Teori Kurikulum, yaitu (1) Disain Kurikulum: merupakan pengorganisasian tujuan, isi, serta proses belajar. Dua dimensi penting yakni (a) substansi, dan (b) model pengorganisasian (bagaimana penggunaan kurikulum dan bagaimana kurikulum di evaluasi), (2) Rekayasa Kurikulum: Proses memfungsikan kurikulum di sekolah / upaya agar kurikulum berfungsi:
– Bidang pelaksanaan proses rekayasa
– Keterlibatan personal dalam proses pelaksanaan kurikulum
– Tugas dan prosedur perencanaan kurikulum
– Tugas dan prosedur pelaksanaan
– Tugas dan prosedur evaluasi

Lima prinsip dalam pengembangan teori kurikulum, yaitu (1) dimulai dengan perumusan / pendefinisian, (2) mempunyai kejelasan nilai & sumber pangkal tolaknya, (3) menjelaskan karakteristik disain kurikulum, (4) menggambarkan proses penentuan kurikulum & interaksi antara proses, dan (5) menyiapkan diri bagi proses penyempurnaan

b. Hakikat Kurikulum

Definisi kurikulum, yang berkembang dan dianut oleh ahli pendidikan, beragam dan tidak hanya satu macam. Dalam Pendidkan Jasmani, beragam pakar mendefinisikan kurikulum. Kurikulum sering dipandang oleh guru pendidikan jasmani sebagai seluruh bidang studi yang ditawarkan kepada peserta didik atau diidentifikasi sebagai bidang studi. Secara umum, ada dua aliran yang mendefinisikan kurikulum, yaitu:

(1) Kurikulum dipandang secara mikro. Pandangan ini mewakili mereka yang beranggapan bahwa yang dimaksud dengan kurikulum adalah materi suatu mata ajar yang harus disampaikan kepada peserta didik. Mereka memandang kurikulum secara mikro. Contoh definisi kurikulum yang termasuk golongan ini adalah: Kurikulum berasal dari kata Yunani “curere” yang berarti tempat bertanding, arah perjalanan, atau suatu pengajaran di perguruan tinggi (Brotosuroyo, Sunardi & Furqon, 1992: 3).
Kurikulum berasal dari bahasa Latin “curriculum” yang berarti a running course, or race course, especially a chariot race course. Kurikulum juga berasal dari bahasa Prancis “courier” artinya “to run” atau berlari. Kurikulum kemudian diartikan sebagai matapelajaran yang harus ditempuh untuk mencapai suatu gelar atau ijazah (Nasution, 1993: 9).

(2) Kurikulum dipandang secara makro atau sesuatu yang memiliki cakupan yang luas. Kurikulum didefinisikan sebagai seluruh pengalaman yang diatur dalam kehidupan persekolahan, mulai dari mata pelajaran di kelas sampai kegiatan ekstrakuriler. Beberapa contoh definisi yang mewakili kelompok adalah:
Gallen & Alexander (dalam Soetopo & Soemanto, 1993: 13) menyatakan bahwa curriculum is sum total of the school efforts to influence learning whether in the classroom, playground or out of school.
Suharsimi Arikunto (1994: 1) menyatakan bahwa kurikulum adalah seluruh pengalaman belajar yang dikembangkan dan dipersiapkan bagi peserta didik untuk mengatasi situasi kehidupan dengan bimbingan pendidik.
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Pasal 1 Butir 19 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional).
Melograno (1996: 2) curriculun is defined as the planned sequence of (1) what students are to learn, (2) how students acquire that learning, (3) how students’ learning is verified.

Selain itu, terdapat beberapa pendapat para ahli kurikulum yang digunakan untuk menjelaskan sifat dan struktur suatu kurikulum, mereka mengklasifikasikan kurikulum menjadi:

(1) Kurikulum tradisional
Dalam pandangan tradisionalist, kurikulum merupakan suatu mata pelajaran yang berdiri sendiri. Mereka sedikit menghubungkan satu mata ajar dengan mata ajar yang lain. Siswa belajar suatu mata ajar yang diberikan di sekolah pada periode waktu tertentu. Pandangan ini cenderung membiarkan siswa untuk mempelajari fakta dan keterampilan dalam satu bidang tertentu secara terpisah tanpa memandangnya sebagai bagian pendidikan secara keseluruhan.

(2) Kurikulum fungsional
Para fungsionalist menitikberatkan perhatian pada pemanfaatan jumlah waktu belajar yang tersedia untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Dalam Pendidikan Jasmani, golongan ini mempelajari hubungan antara materi, gaya mengajar yang dipergunakan oleh guru di dalam kelas, dan jumlah waktu yang dimanfaatkan peserta didik untuk mengerjakan tugas belajarnya dalam rangka memaksimalkan upaya mencapai prestasi belajar yang dicanangkan.

(3) Kurikulum tersembunyi (Hidden Curriculum)
Kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) adalah bahan ajar yang disampaikan oleh guru berupa norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, tetapi tidak tersusun secara eksplisit dalam dokumen kurikulum. Bahan yang disampaikan merupakan kesepakatan para guru karena dipandang penting bagi perkembangan afektif siswa. Guru Penjas harus mencermati norma-norma yang terkandung dalam kegiatan yang diajarkan, memiliki keyakinan bahwa terdapat kesesuaian antara nilai yang nyata dan nilai yang tersembunyi dalam suatu kegiatan yang dipelajari oleh peserta didik.

Memperhatikan definisi kurikulum di atas, yang beragam, perlu diperhatikan bahwa untuk keperluan pembahasan pada matakuliah ini yang dimaksud dengan kurikulum adalah pengalaman-pengalaman dan kegiatan-kegiatan yang direncanakan oleh sekolah dengan tujuan untuk memodifikasi perilaku siswa menuju perilaku yang diharapkan. Kurikulum Penjas merupakan bagian dari kurikulum sekolah secara keseluruhan yang memberikan sumbangan bagi filosofi, tujuan, dan sasaran pendidikan.

c. Kurikulum Sebagai Praxis

Bagaimana perubahan kurikulum Penjas akan terjadi? Apa yang akan menyebabkan timbulnya perbedaan antara materi kurikulum yang ada dengan materi yang akan datang? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan mengemuka saat seseorang mempelajari teori kurikulum.

Pada dasarnya, perencanaan kurikulum merupakan hasil kebijakan publik. Prioritas nasional untuk mengembangkan pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi, perluasan persamaan kesempatan, dan pendidikan tenaga kerja yang mampu bersaing dalam ekonomi global menghasilkan perubahan yang penting kurikulum persekolahan.

Perencanaan kurikulum merupakan suatu perhatian publik yang penting. Ia juga merupakan tanggungjawab profesional yang besar. Sebagian besar keputusan yang berkaitan dengan pedoman kurikulum, pemilihan buku-buku teks, dan keputusan harian mengenai pembelajaran dan materinya dibuat oleh para guru. Perencanaan kurikulum benar-benar merupakan serangkaian pembuatan penilaian profesional dan kebijakan publik.

(1) Apa yang dimaksud dengan praksis?
Pendidikan adalah suatu aktivitas praktik; setiap guru harus membuat keputusan menganai materi dan proses pengajaran bagi pesesrta didiknya dalam kurun waktu dan tempat tertentu. Orang Yunani kuno memberikan hasil analisis yang bermanfaat untuk menerangkan aktivitas praktik. Mereka membedakan dua bentuk aktivitas praktik: poiesis dan praxis. Poiesis berarti produksi suatu anggapan atau definisi yang memberikan aturan atau acuan tertentu untuk menyelesaikan tugas tertentu. Poiesis kadang-kadang diartikan sebagai petunjuk teknis. Praxis adalah suatu aktivitas yang mencoba mewujudkan kesejahteraan manusia dan di dalamnya terkandung pengertian perkembangan yang progresif atas pemahaman tujuan yang sedang disasar yang timbul dalam kegiatan itu sendiri. Kritik dan refleksi diri merupakan bagian tak terpisahkan dari praxis. Carr dan Kemmis menyebutkan praxis sebagai tindakan yang ditetapkan dan direncanakan, :praxis bersumber dari komitmen para praktisi untuk berlaku bijak dan jelas dalam keadaan yang praktis, nyata, dan historis.

Dalam pelaksanaan kurikulum sebagai praxis, elemen praxis yang perlu diperhatikan adalah: (1) ideologi yaitu seperangkat keyakinan, norma-norma, dan pemikiran-pemikiran yang menyediakan kerangka yang digunakan untuk membuat penjelasan tentang dunia ini, (2) wacana adalah apa yang dikatakan dan ditulis tentang suatu topik tertentu, dan (3) tindakan adalah pelaksanaan dari apa yang sudah dipikirkan dan direncanakan.

(2) Mengapa menetapkan kurikulum sebagai praxis?
Pernyataan bahwa kurikulum sebagai praxis memiliki titik berat pada beberapa aspek kurikulum. Pertama, ia menekankan bahwa kurikulum merupakan aktivitas praktik yang dilaksanakan pada kurun waktu dan tempat tertentu dan dengan demikian menempatkan perhatian pada dampak kondisi sosial dan historis terhadap keputusan kurikuler. Kedua, defisni tersebut menunjukkan bahwa teori dan praktik merupakan dua hal yang tidak terpisahkan dan saling berhubungan. Kurikulum dikembangkan lewat interaksi yang dinamis antara tindakan dan refleksi. Dengan demikian, kurikulum bukan hanya seperangkat rencana yang harus diimplementasikan, tetapi juga dihasilkan lewat proses secara aktif yang meliputi proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengevaluasian secara resiporkal dan terpadu. Bagi para guru, definisi kurikulum sebagai praxis menitikberatkan pada kebutuhan untuk melakukan pengujian secara berkelanjutan dan perbaikan keyakinan, tujuan dan prosedur pelaksanaannya.
Teori-teori dan model kurikulum merupakan bagian dari wacana yang membantu pembentukan praktik kurikuler. Setiap teori kurikulum berdasarkan atas seperangkat asumsi tertentu mengenai masyarakat, manusia, dan pendidikan. Teori kurikulum akan menjadi operasional lewat pemilihan atau pengembangan kerangka berpikir. Model kurikulum merupakan pola umum untuk membentuk atau menciptakan rencana program untuk jenjang pendidikan tertentu; model tersebut berkaitan dengan kerangka konseptual dan harus sesuai dengan teori yang mendasari kerangka tersebut.

Para ahli pendidikan jasmani mempelajari teori kurikulum dalam rangka mengklarifikasi falsafah pendidikan seseorang, mengembangkan perspektif baru, dan meningkatkan keterampilan praktis dalam pengembangan kurikulum. Sifat dan kualitas program pendidikan jasmani masa yang akan datang akan tergantung kepada perkembangan sosial, ekonomi, dan politik dan tergantung kepada komitmen dan upaya pelaksanakaan tanggungjawab profesional untuk pembuatan keputusan kurikuler masa datang.

d. Struktur Kurikulum

Untuk mempelajari kurikulum secara menyeluruh, orang perlu memahami struktur kurikulum secara benar. Struktur adalah suatu bangunan yang tersusun oleh gabungan dari bagian-bagian yang ada, satu sama lain saling berkaitan, dan saling mengisi. Setiap bagian memiliki fungsinya sendiri-sendiri. Kurikulum memiliki struktur tertentu yang harus dipelajari oleh orang yang berminat terhadapnya.

Menurut Permendiknas no.: 20/2006 tentang standar isi, struktur kurikulum merupakan pola dan susunan substansi pembelajaran yang harus ditempus oleh siswa dalam suatu tahapan/periode pembelajaran. Substansi pembelajaran terdiri dari mata pelajaran, muatan lokal, dan pengembangan diri.

a. Komponen Kurikulum
Menurut Soetopo & Soemanto (1993: 26-36) jika kurikulum dipandang sebagai suatu sistem, komponen yang menjadi subsistemnya adalah (1) tujuan, (2) materi, (3) organisasi & strategi, (4) sarana, dan (5) evaluasi. Komponen komponen kurikulum merupakan satu kesatuan yang utuh dan berkaitan secara resiprokal. Rincian setiap komponen dijelaskan sebagai berikut:

1) Komponen Tujuan
Tujuan adalah arah atau sasaran yang hendak dituju oleh proses pendidikan. Karenanya, setiap kurikulum memiliki target pedoman yang akan dicapai atau dituju di akhir pelaksanaannya. Tujuan merupakan pedoman untuk melakukan evaluasi atas pekerjaan yang telah diselesaikan. Sesuai dengan tingkatannya, tujuan terdiri dari:

a) Tujuan Pendidikan Nasional
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, berbunyi bahwa: ”Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Tujuan Pendidikan Nasional (TPN) merupakan tujuan pendidikan yang ideal dan jangka panjang. Tujuan ini merupakan penjabaran dari pandangan hidup dan dasar negara Indonesia. TPN merupakan tujuan yang hirarkinya paling tinggi dan merupakan sumber untuk mengembangkan tujuan di bawahnya.

b) Tujuan Institusional/Lembaga
Tujuan institusional adalah tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap jenis maupun jenjang sekolah atau satuan pendidikan tertentu. Permendiknas No. 22 Tahun 2007 merinci tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah sebagai berikut.
(1) Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
(2) Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
(3) Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.

c) Tujuan Kurikuler
Tujuan kurikuler merupakan turunan dari Tujuan Institusional. Tujuan kurikuler merupakan target yang ingin dicapai oleh peserta didik dalam satu bidang studi tertentu. Menurut M. Ali (1992: 76) tujuan kurikuler atau tujuan bidang studi menggambarkan bentuk pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang berhubungan dengan mata pelajaran yang terdapat dalam kurikulum sekolah. Setiap mata pelajaran mempunyai tujuan masing-masing dan memiliki ciri khas yang tidak dimiliki oleh mata pelajaran yang lain. Permendiknas No. 23 Tahun 2007 tentang Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar menjelaskan bahwa:

Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan di Sekolah Dasar bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut. (1) Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga yang terpilih, (2) Meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik, (3) Meningkatkan kemampuan dan keterampilan gerak dasar, (4) Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilainilai, yang terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, (5) Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab, kerjasama, percaya diri dan demokratis (6) Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain dan lingkungan (7) Memahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga di lingkungan yang bersih sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna, pola hidup sehat dan kebugaran, terampil, serta memiliki sikap yang positif.

Mata pelajaran Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan di SMP/MTs bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut. (1) Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga yang terpilih (2). Meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik. (3). Meningkatkan kemampuan dan keterampilan gerak dasar (4). Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai yang terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, (5). Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab, kerjasama, percaya diri dan demokratis, (6). Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain dan lingkungan, (7). Memahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga di lingkungan yang bersih sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna, pola hidup sehat dan kebugaran, terampil, serta memiliki sikap yang positif

Mata pelajaran Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan di SMA/MA bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut. (1) Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga yang terpilih. (2) Meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik. (3). Meningkatkan kemampuan dan keterampilan gerak dasar (4). Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai yang terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan. (5). Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab, kerjasama, percaya diri dan demokratis. (6). Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain dan lingkungan. (7). Memahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga di lingkungan yang bersih sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna, pola hidup sehat dan kebugaran, terampil, serta memiliki sikap yang positif.

d) Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran merupakan tujuan pendidikan operasional yang hendak dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran setiap mata pelajaran. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara spesifik dan lebih menggambarkan tentang “what will the student be able to do as result of the teaching that he was unable to do before” (Rowntree dalam Nana Syaodih Sukmadinata, 1997). Dengan kata lain, tujuan pendidikan tingkat operasional ini lebih menggambarkan perubahan perilaku spesifik apa yang hendak dicapai peserta didik melalui proses pembelajaran. Merujuk pada pemikiran Bloom, maka perubahan perilaku tersebut meliputi perubahan dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotor.
Lebih jauh lagi, dengan mengutip dari beberapa ahli, Nana Syaodih Sukmadinata (1997) memberikan gambaran spesifikasi dari tujuan yang ingin dicapai pada tujuan pembelajaran, yakni :
(1) Menggambarkan apa yang diharapkan dapat dilakukan oleh peserta didik, dengan : (a) menggunakan kata-kata kerja yang menunjukkan perilaku yang dapat diamati; (b) menunjukkan stimulus yang membangkitkan perilaku peserta didik; dan (c) memberikan pengkhususan tentang sumber-sumber yang dapat digunakan peserta didik dan orang-orang yang dapat diajak bekerja sama.
(2) Menunjukkan perilaku yang diharapkan dilakukan oleh peserta didik, dalam bentuk: (a) ketepatan atau ketelitian respons; (b) kecepatan, panjangnya dan frekuensi respons.
(3) Menggambarkan kondisi-kondisi atau lingkungan yang menunjang perilaku peserta didik berupa : (a) kondisi atau lingkungan fisik; dan (b) kondisi atau lingkungan psikologis.

2) Komponen Materi
Komponen berikutnya yang menjadi bagian kurikulum adalah Materi yang terdiri dari isi dan struktur program.
a) Isi adalah bahan/kegiatan yang harus diberikan kepada peserta didik dalam jangka waktu tertentu dan pada jenjang pendidikan tertentu, atau pada kelas tertentu. Isi materi terdiri dari :
(1) Materi Pokok berisi rincian bahan ajar yang harus disampaikan kepada pesesrta didik agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai.
(2) Bahan pengajaran adalah urut-urutan penyampaian materi pokok, dari tahun pertama ke tahun berikutnya. Urut-urutan biasanya berdasarkan karakter materi, kemampuan/minat siswa.
(3) Sumber bahan adalah resources yang digunakan sebagai sumber sejumlah pengalaman belajar yang dibutuhkan oleh siswa. Sumber bahan belajar dapat berasal dari orang, tempat, dan barang cetakan dan eletronik.
(4) Silabus.

b) Struktur Program
Berdasarkan jenjang pendidikan, materi kurikulum memiliki struktur sebagai berikut.

Pengorganisasian kelas-kelas pada SMA/MA dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu kelas X merupakan program umum yang diikuti oleh seluruh peserta didik, dan kelas XI dan XII merupakan program penjurusan yang terdiri atas empat program: (1) Program Ilmu Pengetahuan Alam, (2) Program Ilmu Pengetahuan Sosial, (3) Program Bahasa, dan (4) Program Keagamaan, khusus untuk MA.

3). Komponen Organisasi dan Strategi
Secara umum, para ahli mengatakan bahwa sesuai dengan kajian yang ada dalam suatu bidang studi, contohnya Penjasorkes, kurikulum harus diorganisasi berdasarkan perkembangan logis bahan yang disampaikan. Setiap pengalaman belajar siswa harus dikembangkan berdasarkan pengalaman yang telah diselesaikan oleh siswa, dan harus membangun keterampilan yang dibutuhkan untuk pengalaman belajar berikutnya. Dengan demikian, kurikulum bisa diorganisasikan menjadi:

a) Struktur horisontal
Kurikulum berstruktur horisontal adalah kurikulum yang didesain berdasarkan tahun akademik. Materi disusun untuk satu tahun ajaran. Beberapa bentuk kurikulum yang mempergunakan rencana organisasi horisontal tahunan adalah rencana blok sederhana, dan rencana unit yang konkuren. Kurikulum dapat pula diorganisasi menjadi separated, correlated, dan integrated.

Separated, bahan pengajaran dikelompokkan menjadi satu mata ajar yang sempit. Bahan ajar dikotak-kotakkan menjadi satu paket nama yang harus dipelajari peserta didik. Menurut M. Ali (1992: 111) organisasi kurikulum yang separated terdiri dari mata pelajaran-mata pelajaran yang terpisah satu dengan yang lain. Mata pelajaran disusun secara logis dan sistematis, sehingga siswa dapat mempelajarinya dengan baik. Esensi dari model organisasi ini adalah muatan mengikuti aturan yang logis dan berurutan, sehingga isi dan pengalaman belajar yang diperoleh siswa bersifat terpisah-pisah.

Correlated, kurikulum yang diorganisasi dengan bentuk correlated berisi materi mata pelajaran yang dikorelasikan antara yang satu dan yang lain. M. Ali (1992: 113-114) menyatakan bahwa correlated curriculum merupakan organisasi kurikulum yang menghubungkan mata pelajaran satu dengan mata pelajaran yang lain. Hubungan ini dapat dikembangkan pada saat proses pembelajaran berlangsung atau pada saat pembuatan satuan pelajaran.

Integrated, kurikulum yang terpadu atau integrated merupakan pengorganisasian kurikulum yang berupaya untuk meninjau suatu masalah dari berbagai sudut pandang. Batas antar mata pelajaran menjadi tidak tampak. Apa yang diucapkan guru dapat ditanggapi oleh siswa sesuai dengan pengetahuan dan cara pandangnya. Tidak ada yang salah dalam memandang suatu permasalahan.

Kecenderungan yang sedang berlangsung saat ini, pemaduan dapat dilakukan dalam bentuk: (1) within single disciplines (dalam satu mata ajar): topik tertentu dipadukan dengan topik atau pokok bahasan yang lain. Pemaduannya terjadi dalam satu mata pelajaran. (2) across several disciplines (lintas beberpa mata pelarajaran): mata pelajaran Penjaskes dipadukan dengan mata pelajaran yang lain. (3) within and across learners (dalam dan lintas siswa): siswa memahami suatu topik berdasarkan apa yang dimilikinya, setiap siswa boleh mengartikan apa yang dilihatnya menurut sudut pandangnya.

b) Struktur vertikal

Menurut Soemanto dan Soetopo (1993: 35) struktur vertikal suatu kurikulum menunjukkan penyusunan kurikulum yang didasarkan atas (1) sistem kelas, kenaikan kelas dilaksanakan setiap tahun secara serempak, (2) program tanpa kelas, perpindahan ke tingkat program yang lain dikerjakan setiap waktu tanpa memperhatikan yang lain, (3) kombinasi antara (1) dan (2).

Wuest dan Lombardo (1994: 59) menyatakan bahwa hubungan antara apa yang dipelajari di tingkat pertama ke tingkat selanjutnya menentukan rencana organisasi vertikal dari kurikulum dan pembelajaran. Rencana vertikal berkaitan dengan ruang lingkup dan sekuen kurikuler yang ditawarkan dari TK sampai SMU. Ruang lingkup dan sekuen program diorganisasi berdasarkan falsafah, tujuan program, dan kebutuhan anak didik.

Strategi adalah suatu perencanaan yang akan digunakan untuk menjalan suatu pekerjaan. Strategi kurikulum yang dimasud adalah pelbagai kegiatan yang dimulai dengan perencanaan sampai pengevaluasian kurikulum. Dengan demikian strategi kurikulum meliputi: (1) Desain pembelajaran yang akan dikerjakan, (2) Metode pembelajaran yang akan diperguakan dan dilaksanakan selama proses berlangsung, (3) organisasi kelas yang akan diterapkan, (4) bentuk komunikasi yang akan dikerjakan, dan (5) cara mengevaluasi yang ditetapkan untuk mengetahui seberapa besar tingkat keberhasilan suatu proses pembelajaran.

4) Komponen Sarana
Menurut Soemanto dan Soetopo (1993: 37) komponen sarana dalam kurikulum terdiri dari: (a) sarana personal yang terdiri dari: guru, tenaga edukatif yang tidak mengajar, seperti konselor, tenaga administratif, dan tenaga khusus atau penasihat, (b) sarana material yang meliputi: bahan instruksional, sarana fisik/gedung/lapangan, dan biaya operasional, dan (c) sarana kepemimpinan yang memberikan dukungan dan pengaman, bimbingan pelaksanaan program.

5) Komponen Evaluasi
Evaluasi merupakan bagian yang penting dalam kurikulum. Hasil evaluasi terhadap kurkulum dapat dijadikan bahan perbaikan untuk masa perencanaan berikutnya. Evaluasi sebaiknya dikerjakan secara berkesinambungan. Berdasarkan hal itu, evaluasi kurikulum yang dikerjakan akan menyangkut dua hal penting, yaitu:
a) Evaluasi terhadap hasil atau produk kurikulum.
Evaluasi terhadap hasil bertujuan untuk menilai sejauh mana tingkat keberhasilan kurikulum dalam mengantarkan siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
b) Evaluasi terhadap proses kurikulum.
Evaluasi terhadap proses kurikulum bermaksud untuk menilai apakah proses pelaksanaan kurikulum berlangsung sesuai dengan yang ditetapkan. Dengan demikian, tujuan yang ditetapkan akan terpantau tingkat ketercapaiannya.

b. Hakikat Penjas

Pendidikan Jasmani mengandung makna bahwa mata pelajaran ini menggunakan aktivitas jasmani sebagai media untuk mencapai tujuan pembelajarannya. Berikut ini dikemukakan beberapa pendapat ahli tentang pendidikan jasmani:

Melograno (1996: 18) stated that physical education means that the learner’s individual needs -cognitive, affective, and psychomotor- are satisfied explicitly through semua forms of physical activity.

Lumpkin (1986: 9) physical education is a process through which an individual obtain physical, mental, and social skills and fitness through physical activity.

Wuest and Lombardo (1994: 4) stated that physical education is learning process designed to foster the development of motor skills, health-related fitness, knowledge, attittudes relative to physical activity through a series of carefully planned and conducted experiences.

Dengan demikian, Pendidikan jasmani merupakan suatu proses pembelajaran melalui aktivitas jasmani yang didesain untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan keterampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan aktif, dan sikap sportif, kecerdasan emosi. Lingkungan belajar diatur secara seksama untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan seluruh ranah, jasmani, psikomotor, kognitif, dan afektif setiap siswa. Pengalaman belajar yang disajikan akan membantu siswa untuk memahami mengapa manusia bergerak dan bagaimana cara melakukan gerakan secara aman, efisien, dan efektif. Selain itu, pengalaman tersebut dilaksanakan secara terencana, bertahap, dan berkelanjutan agar dapat meningkatkan sikap positif bagi diri sendiri sebagai pelaku, dan menghargai manfaat aktivitas jasmani bagi peningkatan kualitas hidup seseorang, sehingga akan terbentuk jiwa sportif dan gaya hidup aktif.
Berdasarkan definisi Pendidikan Jasmani tersebut, karakteristik Pendidikan Jasmani adalah sebagai berikut.

1) Pendidikan jasmani merupakan salah satu mata pelajaran yang ada di TK-SMA, yang mempelajari dan mengkaji gerak manusia secara interdisipliner. Gerak manusia adalah aktivitas jasmani yang dilakukan secara sadar untuk meningkatkan kebugaran jasmani dan keterampilan motorik, mengembangkan sikap dan perilaku agar terbentuk gaya hidup yang aktif. Aktivitas jasmani yang dilakukan berupa aktivitas bermain, permainan, dan olahraga.

2) Pendidikan jasmani menggunakan pendekatan interdisipliner, karena melibatkan berbagai disiplin ilmu seperti anatomi, fisiologi, psikologi, sosiologi, dan ilmu-ilmu yang lain. Pendukung utama pendidikan jasmani adalah ilmu keolahragaan yang mencakup filsafat olahraga, sejarah olahraga, pedagogi olahraga, sosiologi olahraga, psikologi olahraga, fisiologi olahraga, dan biomekanika olahraga.

3) Materi pendidikan jasmani merupakan kajian terhadap gerak manusia yang dikemas dalam muatan yang esensial, faktual, dan aktual. Materi ini disampaikan dalam rangka memberikan kesempatan bagi siswa untuk tumbuh kembang secara proporsional, dan rasional dalam hal ranah psikomotor, jasmani, kognitif, dan afektif.

Struktur materi Pendidikan Jasmani dikembangkan dan disusun berdasarkan model kurikulum kebugaran jasmani dan pendidikan olahraga (Jewett, Ennis, and Bain, 1995). Asumsi yang digunakan oleh kedua model ini adalah untuk menciptakan gaya hidup sehat dan aktif, manusia perlu memahami hakikat kebugaran jasmani dengan menggunakan resep latihan yang benar. Olahraga merupakan bentuk lanjut dari bermain dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan keseharian manusia, agar dapat melaksanakan kegiatan olahraga dengan benar, manusia perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan olahraga yang memadai.

Gambar 1. Struktur Materi Pendidikan Jasmani
(Wuest dan Lombardo, 1994: 65)

c. Hubungan Penjas dengan Kurikulum

Memperhatikan hakikat kurikulum dan Penjas di atas, paling tidak terdapat dua jenis hubungan/keterkaitan antara Penjas dan Kurikulum. Kedua jenis kaitan tersebut adalah:

1) Penjas merupakan payung/wadah yang menampung kurikulum. Hubungan/keterkaitan ini terjadi bila Penjas merupakan suata bidang ilmu yang mempelajari gerak manusia (body of knowledge). Bila Penjas merupakan suatu bidang ilmu, maka orang yang mempelajarinya akan mencermati pula kurikulum pendidikan jasmani. Dengan demikian, kurikulum merupakan bagian dari disiplin Pendidikan Jasmani yang harus dipelajari oleh mereka yang menekuni keahlian Penjas.
Contoh untuk hubungan dimaksud adalah matakuliah Kajian kurikulum yang terdapat dalam Matakuliah-matakuliah yang diajarkan di Prodi PJKR.

2) Penjas sebagai bagian dari kurikulum. Penjas merupakan salah satu bidang studi yang terdapat dalam kurikulum secara keseluruhan. Bidang studi yang lain, seperti Matematika, IPA, dan IPS, serta bahasa merupakan materi yang terdapat dalam kurikulum suatu jenjang pendidikan tertentu. Dengan demikian, Penjas merupakan salah satu bidang studi yang termuat dalam kurikulum, yang harus disampaikan kepada peserta didik oleh guru penjas. Contoh yang paling mudah diperoleh untuk menggambarkan hubungan Penjas sebagai bagian dari Kurikulum adalah Matapelajaran Penjasorkes yang terdapat dalam Kurikulum SMA/SMK.

d. Sejarah Perkembangan Kurikulum di Indonesia

Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, dan 2004, serta yang terbaru adalah kurikulum 2006. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945, perbedaanya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya.
Menurut Indarto (2008) perjalanan sejarah perkembangan kurikulum di negara kita meliputi tahapan sebagai berikut.
1) Kurun waktu 1945 sampai 1968
a) Kurikulum pertama yang lahir pada masa kemerdekaan memakai istilah dalam bahasa Belanda leer plan artinya rencana pelajaran. lebih popular ketimbang curriculum (bahasa Inggris). Perubahan arah pendidikan lebih bersifat politis, dari orientasi pendidikan Belanda ke kepentingan nasional. Sedangkan asas pendidikan ditetapkan Pancasila. Kurikulum yang berjalan saat itu dikenal dengan sebutan Rencana Pelajaran 1947, yang baru dilaksanakan pada tahun 1950. Sejumlah kalangan menyebut sejarah perkembangan kurikulum diawali dari Kurikulum 1950. Bentuknya memuat dua hal pokok:
1. Daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya,
2. Garis-garis besar pengajaran.
Orientasi Rencana Pelajaran 1947 tidak menekankan pada pendidikan pikiran. Yang diutamakan adalah : pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat.
Materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani.
b) RENCANA PELAJARAN TERURAI 1952
Kurikulum ini lebih merinci setiap mata pelajaran yang disebut Rencana Pelajaran Terurai 1952. “Silabus mata pelajarannya jelas sekali. seorang guru mengajar satu mata pelajaran,” (Djauzak Ahmad, Dirpendas periode1991-1995). Di penghujung era Presiden Soekarno, muncul Rencana Pendidikan 1964 atau Kurikulum 1964. Fokusnya pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral (Panca wardhana). Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmaniah. Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis.
2) Kurun waktu tahun 1968 sampai tahun 1999
a) KURIKULUM 1968
Kelahiran Kurikulum 1968 bersifat politis, mengganti Rencana Pendidikan 1964 yang dicitrakan sebagai produk Orde Lama. Dengan suatu pertimbangan untuk tujuan pada pembentukan manusia Pancasila sejati. Kurikulum 1968 menekankan pendekatan organisasi materi pelajaran: kelompok pembinaan Pancasila, pengeta huan dasar, dan kecakapan khusus. Mata pelajaran dikelompokkan menjadi 9 pokok.
Djauzak menyebut Kurikulum 1968 sebagai kurikulum bulat. “Hanya memuat mata pelajaran pokok saja”. Muatan materi pelajaran bersifat teoritis, tidak mengaitkan dengan permasalahan faktual di lapangan. Titik beratnya pada materi apa saja yang tepat diberikan kepada siswa di setiap jenjang pendidikan.
b) KURIKULUM 1975
Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efektif dan efisien. Menurut Drs Mudjito; Ak; Msi (Dir. Pemb. TK dan SD Depdiknas). yang melatar belakangi lahirnya kurikulum ini adalah pengaruh konsep di bidang manejemen, yaitu MBO (management by objective) yang terkenal saat itu,”
Metode, materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI), yang dikenal dengan istilah “satuan pelajaran”, yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan.
Setiap satuan pelajaran dirinci menjadi : tujuan instruksional umum (TIU), tujuan instruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi. Kurikulum 1975 banyak dikritik. Guru dibikin sibuk menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran.
c) KURIKULUM 1984
Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Meski mengutamakan pendekatan proses, tapi faktor tujuan tetap penting. Kurikulum ini juga sering disebut “Kurikulum 1975 yang disempurnakan”. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Leaming (SAL).

Tokoh penting dibalik lahirnya Kurikulum 1984 adalah Profesor Dr. Conny R. Semiawan, Kepala Pusat Kurikulum Depdiknas periode 1980-1986.
Konsep CBSA yang elok secara teoritis dan bagus hasilnya di sekolah-sekolah yang diujicobakan, mengalami banyak deviasi dan reduksi saat diterapkan secara nasional. Sayangnya, banyak sekolah kurang mampu menafsirkan CBSA. Yang terlihat adalah suasana gaduh di ruang kelas lantaran siswa berdiskusi, di sana-sini ada tempelan gambar, dan yang menyolok guru tak lagi mengajar model berceramah. Akhiran penolakan CBSA bermunculan.
d) KURIKULUM 1994 dan SUPLEMEN KURIKULUM 1999
Kurikulum 1994 merukan hasil upaya untuk memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya, terutama kurikulum 1975 dan 1984. Sayang, perpaduan antara tujuan dan proses belum berhasil. Sehingga banyak kritik berdatangan, disebabkan oleh beban belajar siswa dinilai terlalu berat, dari muatan nasional sampai muatan lokal. Materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing, misalnya bahasa daerah kesenian, keterampilan daerah, dan lain-lain. Berbagai kepentingan kelompok-kelompok masyarakat juga mendesak agar isu-isu tertentu masuk dalam kurikulum. Akhirnya, Kurikulum 1994 menjelma menjadi kurikulum super padat. Kejatuhan rezim Soeharto pada 1998, diikuti kehadiran Suplemen Kurikulum 1999. Tapi perubahannya lebih pada menambal sejumlah materi.
3) Kurun waktu 1999 sampai sekarang
a) KURIKULUM 2004
Sebagai pengganti kurikulum 1994 adalah kurikulum 2004, yang disebut dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Suatu program pendidikan berbasis kompetensi harus mengandung tiga unsur pokok, yaitu: pemilihan kompetensi yang sesuai; spesifikasi indikator-indikator evaluasi untuk menentukan keberhasilan pencapaian kompetensi; dan pengembangan pembelajaran.
KBK memiliki ciri-ciri sebagai berikut : Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal, berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.
Kegiatan pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi, sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi. Struktur kompetensi dasar KBK ini dirinci dalam komponen aspek, kelas dan semester. Keterampilan dan pengetahuan dalam setiap mata pelajaran, disusun dan dibagi menurut aspek dari mata pelajaran tersebut. Pernyataan hasil belajar ditetapkan untuk setiap aspek rumpun pelajaran pada setiap level. Perumusan hasil belajar adalah untuk menjawab pertanyaan, “Apa yang harus siswa ketahui dan mampu lakukan sebagai hasil belajar mereka pada level ini?”. Hasil belajar mencerminkan keluasan, kedalaman, dan kompleksitas kurikulum dinyatakan dengan kata kerja yang dapat diukur dengan berbagai teknik penilaian. Setiap hasil belajar memiliki seperangkat indikator. Perumusan indikator adalah untuk menjawab pertanyaan, “Bagaimana kita mengetahui bahwa siswa telah mencapai hasil belajar yang diharapkan?”.
b) KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN
Pelaksanaan KBK masih dalam uji terbatas, namun pada awal tahun 2006, uji terbatas tersebut dihentikan. Dan selanjutnya dengan terbitnya permen nomor 24 tahun 2006 yang mengatur pelaksanaan permen nomor 22 tahun 2006 tentang standar isi kurikulum dan permen nomor 23 tahun 2006 tentang standar kelulusan, lahirlah kurikulum 2006 yang pada dasarnya .0.sama dengan kurikulum 2004. Perbedaan yang menonjol terletak pada kewenangan dalam penyusunannya, yaitu mengacu jiwanya desentralisasi sistem pendidikan.
Pada kurikulum 2006, pemerintah pusat menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar, sedangkan sekolah dalam hal ini guru dituntut untuk mampu mengembangkan dalam bentuk silabus dan penilaiannya sesuai dengan kondisi sekolah dan daerahnya. Hasil pengembangan dari semua mata pelajaran, dihimpun menjadi sebuah perangkat yang dinamakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Penyusunan KTSP menjadi tanggung jawab sekolah di bawah binaan dan pemantauan dinas pendidikan daerah dan wilayah setempat.
3.1 Materi Pokok Model Kurikulum

Keutamaan pendidikan jasmani dibuktikan oleh sumbangannya yang unik terhadap pertumbuhan dan perkembangan peserta didik. Thomas, Lee dan Thomas (1988: 5) menyatakan bahwa pendidikan jasmani menyumbangkan dua tujuan yang khas, yaitu 1) mengembangkan dan memelihara tingkat kebugaran jasmani yang sesuai untuk kesehatan dan mengajarkan mengapa kebugaran merupakan sesuatu yang penting serta bagaimana kebugaran dipengaruhi oleh latihan, dan 2) mengembangkan keterampilan gerak yang layak, diawali oleh keterampilan gerak dasar, kemudian menuju ke keterampilan olahraga tertentu, dan akhirnya menekankan pada berolahraga sepanjang hayat.

Walaupun tujuan utama pendidikan jasmani adalah mengembangkan keterampilam gerak dan kebugaran jasmani (ranah jasmani dan psikomotor), tetapi pengembangan ranah kognitif dan afektif tidak pula dinomorduakan. Hal ini akan terlaksana, bila perencanaannya dikerjakan secara cermat dan hati-hati. Kedudukan Pendidikan jasmani yang demikian strategis menuntutnya harus memiliki program yang terencana dan terukur.

Untuk mengorganisasi program pendidikan jasmani secara baik, beberapa model kurikulum telah dikembangkan dan dipergunakan secara luas di seluruh dunia. Model kurikulum adalah suatu pola umum untuk menciptakan atau membentuk desain program (Jewett, Bain dan Ennis, 1994: 15). Wuest dan Lombardo (1994: 62) menambahkan bahwa model kurikulum merupakan suatu metode untuk mengintegrasikan atau menyatukan proses pembelajaran dengan hasilnya, mempergunakan suatu sistem nilai atau teori belajar tertentu sebagai alat pemersatunya.

a. Model Kurikulum Pendidikan Olahraga

Model ini dikembangkan oleh Siedentop berdasarkan atas asumsi bahwa (1) olahraga adalah bentuk lanjut dari bermain, (2) olahraga merupakan bagian penting dari kebudayaan, (3) peserta didik harus berolahraga lewat pendidikan jasmani karena asumsi kedua, dan (4) keikutsertaan peserta didik dalam olahraga harus sesuai dengan perkembangannya.

Siedentop (1994: 3) menyatakan bahwa pendidkan olahraga merupakan suatu model kurikulum dan pengajaran yang dikembangkan untuk program pendidikan jasmani dimana peserta didik tidak hanya belajar secara lengkap bagaimana cara berolahraga, tetapi juga belajar mengkoordinir dan mengatur kegiatan olahraga. Peserta didik, juga belajar bertanggung jawab secara pribadi dan keterampilan sebagai anggota kelompok secara efektif.

Dengan melaksanakan model ini, memungkinkan peserta didik mempunyai pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan yang diperlukan untuk ikut serta dalam kegiatan olahraga. Syarat penting yang perlu diperhatikan adalah olahraga harus dimodifikasi sesuai dengan tingkat pengetahuan dan keterampilan peserta didik, sehingga mereka bisa berpartisipasi baik secara indidvidu maupun secara tim dan kelompok.

Tujuan yang ingin dicapai oleh model kurikulum ini adalah: 1) meningkatkan minat peserta didik terhadap kegiatan olahraga agar mereka berpartisipasi secara suka-rela. 2) mengembangkan pemahaman, kemampuan strategi, dan keterampilan dalam berolahraga. 3) meningkatkan pemahaman akan lingkungan olahraga dan meningkatkan etika berperilaku dalam berolahraga.

Salah satu fungsi utama pendidikan olahraga adalah membuat pendidikan jasmani mirip dengan olahraga. Siedentop mengidentifikasi 6 ciri-ciri yang terdapat dalam model ini yang sangat penting untuk mengenalkan budaya olahraga dalam pendidikan jasmani. Ciri-ciri dimaksud meliputi (1) musim-musim olahraga: sebuah musim memerlukan waktu yang cukup panjang agar siswa mapu mengembangkan keterampilan dan pemahaman dan menimbulkan kesenangan selaras dengan semakin meningkatnya tantangan dalam kegiatan, (2) afiliasi kepada tim: siswa segera bergabung dengan tim tertentu selama satu musim. Kelompok ini diperlukan untuk meningkatkan kerjasama dan rasa meiliki tim, (3) kompetisi yang terjadwal: jadwal kompetisi yang telah ditetapkan diperlukan dalam rangka memberi kesempatan kepada setiap tim untuk menyiapkan diri, (4) Kegiatan pucak: setelah mengiktui kompetisi dalam periode tertentu, siswa akan memasuki babak final dan kegiatan pembagian hadiah, (5) Pencatatan rekor: setiap rekor/prestasi perlu disimpan dan dijadikan landasan untuk membuat program berikutnya, (6) guru sebagai pelatih.

Contoh model Pendidikan Olahraga diambil dari Louisiana School for Math, Science and Arts disajikan pada tabel di bawah ini.. Siswa memulai pelajaran dengan mengambil mata pelajaran prasyarat “Fitness”. Setelah mengikuti materi fitness, mereka memilih salah satu aktivitas dari tiga bidang utama yang disediakan, yaitu sport education, leisure, atau fitness. Rincian lengkap ketiga bidang tersebut pada tabel berikut.
Sport Education Leisure Fitness
Racquet sports:
Badminton, tennis, table tennis.
Recreation: Boating, canoeing, sailing, water skiing, windsurfing Weifht training
Aerobic dance
Aerobic exercise.
Target sports:
Archery, bowling, golf, fencing, riflery.
Team sports:
Volleyball, basketball, soccer, softball, baseball, track and field.
Martial arts:
Karate. Aquatics:

Recreation Dance:

Setiap aktivitas dalam tabel tersebut, kemudian dijabarkan menjadi rencana pengajaran untuk satu catur wulan. Salah satu contoh kegiatan yang dikembangkan adalah aktivitas Tennis Lapangan sebagai berikut.

Sesi Aktivitas
1 Introduce sport education, tennis skills,
Elect sports board.
2-5 Theory: history and traditions of tennis,
rules, rituals, doubles play, officiating.
Skills practice
6 Skills test
7 Singles games for ranking
8 Singles games, teams selected
9 Team practice, double competition format experience
10-14 Double competition round robin,
players matched through equivalent ranking
15 Review double competition,
Singles rankings within teams
16-21 Singles competition between teams,
play equivalent ranking
22 Visit local tennis center, games,
Award ceremony.

b. Model Pendidikan Kebugaran

William Anderson mengembangkan model Pendidikan Kebugaran. Pemeliharaan dan peningkatkan status kebugaran jasmani peserta didik merupakan fokus utama dari kurikulum model ini. Perencana model ini berasumsi bahwa aktivitas jasmani merupakan inti dari gaya hidup yang sehat, dan bahwa perkembangan gaya hidup yang demikian memerlukan pengetahuan mengenai kebugaran jasmani yang meliputi hubungan aktivitas dan kesehatan, keterampilan jasmani yang menyehatkan, dan komitmen terhadap keutamaan latihan (Jewett, Bain & Ennis, 1994: 197). Pengetahuan mengenai kebugaran jasmani menurut Melograno (1996: 19) meliputi: prinsip dan pengaruh latihan, desain program latihan individu berdasarkan prinsip-prinsip kebugaran, bentuk aktivitas jasmani yang mengembangkan kebugaran, dan kesadaran akan pemeliharaan kebugaran jasmani.

Rose yang dikutip oleh Pate dan Hohn (1994: 61-63) menyatakan bahwa kurikulum dengan model pendidikan kebugaran memiliki tujuan yang bertingkat, seperti anak tangga. Tujuannya terdiri dari 5 tahapan yang selaras dengan perkembangan dan pertumbuhan peserta didik. Pertama, melaksanakan latihan secara teratur: a) mempelajari kebiasaan pribadi, dan b) belajar berlatih secara teratur dan menikmatinya. Kedua, memperoleh kebugaran jasmani: a) memperoleh kriteria bugar untuk komponen kebugaran jasmani yang berkaitan kesehatan, b) belajar membuat tujuan kebugaran jasmani pribadi yang realistik Ketiga, pola kebugaran jasmani: a) memilih aktivitas pribadi, dan b) mengevaluasi program latihan dan olahraga Keempat, evaluasi diri: a) menguji kebugarannya sendiri, dan b) menterjemahkan hasil tes. Kelima, memecahkan masalah dan membuat keputusan: a) merencanakan program, dan b) men-jadi seorang pelaku yang berpengetahuan.

Muatan yang ada dalam kurikulum ini memiliki karakteristik sebagai berikut: menitik beratkan pada penanaman nilai kebugaran jasmani sepanjang hayat, menekan pada perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku, melaksanakan program kegiatan secara berkelanjutan, dan melakukan pengujian reguler serta penilaian individual. Tugas guru dalam penerapan pendidikan kebugaran kontemporer adalah membimbing siswa agar mengikuti aktivitas secara giat, mengajarkan keterampilan membuat keputusan dan manajemen diri, mengembangkan komitmen menuju pola hidup aktif, dan melaksanakan kegiatan penilaian kebugaran secara pribadi.

Contoh Kurikulum yang menggunakan Model kebugaran, diambil dari Chestnut Hill Community Scholl, disajikan sebagai berikut.

Fisrt Quarter
Unit I Introduction to Fitnes
1. Principles of Warm-Up: Basic stretching and conditioning exercise
2. Definition of Physical Fitness
Components of fitness: Overview
3. Aerobic Games
4. Benefits of Exercise: Desired outcomes of physical education
5. Target heart rate
6. Concept of personal best health-related and skill-related fitness goal.
Unit II Cardiovascular Fitness
7. Recovery heart rate
8. Fitness Test Evaluation Personal goal setting
9. How to walk-jog
10. Principles of training for CV fitness
11. Charting heart rate
12. Review principles of CV fitness
Unit III Muscular Strength and Endurance
13. Principles of training
14. Using weight
Unit IV Summary-HRF Fitness Components
15. Flexibility
16. Value of aerobics
17. Review of principles of training
18. Distance running
19. Fitness testing
20. Fitness knowledge test

Second Quarter
Unit V Body Composition and Nutrition
1. Body composition: Calorie and diet analysis Nutrition and problems
2. Basic nutrients
3. Basic food groups
4. Inventopry of eating habits
Guidelines for permanent weight control
5. Review
Unit VI Designing Your Own Exercise Program
6. Evaluating personal fitness status: Contract for change (Lab 7)
7. Benefits gained from various sports activities
8. Analysis of current activity patterns
9. Design of personal six-week exercise programs
(Lab 25-plan to be implemented 3rd quarter)

Third Quarter
Unit VII Stress (in cooperation with teachers of human development)

Unit VIII Self Management Skills
1. Implementing personal exercise plans
2. Self-direction and personal responsibility
3. self-monitoring and self-reinforcement
4. Reinforcement of self-management skills (as needed)
5. Evaluation of change (Lab 36)

Fourth Quarter
Unit IX Lifestyle Appraisal
1. Resetting personal fitness goals (based on 3rd quarter exercise rpogram)
2. Total fitness
3. Consumer Awareness
4. Self-management Concepts (review as needed)
5. Lifestyle changes
6. Personal exercise programs for the summer
Post Testing

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: